Life Issues and International Relations



Apa yang terlintas dipikiran teman-teman ketika mendengar istilah manusia bebas? Seseorang yang bisa melakukan apa saja? Atau seseorang yang bebas kemana saja?

Lalu apa yang terlintas dipikiran teman-teman kalau melihat orang dengan setelan pakaian yang tidak teratur, duduk di pinggir jalan ketika matahari bersinar terik dan hanya melihat orang berlalu lalang tanpa ekspresi yang pasti?

Baik. Aku memang tidak pandai mendeskripsikan seseorang terlebih tidak ada dokumentasi yang bisa aku ambil hari ini. Ceritanya..hari ini aku pergi bersama saudara perempuan mama, sebut saja tanteku. Lelah berkeliling kota membuat kami harus singgah untuk menambah energi. Singgahnya di kedai kwetiau pinggir jalan, dekat sekali dengan pusat kota. Perbincangan lama dengan pemilik kedai tentang masa depan anak-anak dan keadaan pandemi ini kemudian terhenti sejenak setelah kedatangan sosok pria yang tiba-tiba duduk di samping kedai.

Pria itu dikenal dengan nama Epan. Kelahiran tahun 1965. Ia pernah bersekolah di salah satu SMA terkenal dan pernah juga berkuliah di salah satu universitas negeri di kotaku. Tidak diketahui apa pekerjaannya, orang bilang dia tidak punya pekerjaan, padahal pernah berkuliah dan lulus. Kelahiran tahun 65, katakanlah umurnya sekarang sudah 55 tahun. Tapi dia tidak tampak tua. Tidak ada kerutan yang terlihat diwajahnya atau mungkin karena aku tidak melihatnya cukup dekat. Di usia yang sudah tua, ia bahkan belum menikah. Aku tidak akan mengatakannya ‘bujang tua’. Bagiku, tidak menikah atau menikah itu adalah pilihan. Tidak menikah bukan berarti tidak menarik. Tidak menikah bukan berarti tidak laku. Mungkin seseorang pernah merasakan pengalaman buruk tentang pernikahan atau memiliki tujuan hidup lain selain menikah. Bila berbicara tentang kebahagiaan, tidak semua orang yang menikah akan bahagia dan kebahagiaan tidak sekedar didapatkan dengan menikah. Kembali lagi bahwa itu adalah pilihan.

Pria itu..sering disebut sakit jiwa atau bahasa ringannya ‘rada stress’ oleh orang-orang sekitar. Aku tanya kenapa? Orang-orang bilang karena dia terlihat seperti itu. Dia tidak terlihat seperti manusia normal yang punya tujuan hidup, dia tidak bekerja, dan suka tidur sembarangan –kadang di depan toko atau di mushola–. Padahal dia berasal dari keluarga yang cukup baik dan terpandang. Orang tuanya pernah punya usaha rumah makan terkenal di daerah dekat tempat aku makan itu, tapi sekarang orang tuanya sudah tiada. Kakak dan adiknya pun punya kedai dan usaha lain juga yang tidak kalah terkenal di berbagai tempat di kotaku.

Anehnya, orang-orang bilang dia masih sangat nyambung kalau diajak ngobrol. Dia juga masih ingat dan selalu ingat dengan teman-teman lamanya, baik itu teman SMA maupun teman kuliah. Tidak jarang dia memanggil dan menyapa teman lamanya yang lewat. Orangnya juga tidak pelit, dia sering mentraktir teman-temannya yang datang ke tempat makan yang sama dengannya. Lah, dia dapat uang dari mana? katanya dia dapat uang ya jelas dari keluarganya, dari kakak-adiknya. Tapi selain itu dia juga sering dapat uang dari teman-temannya dan dari guru sekolah SMA nya dulu.

Hal unik dari orang ini adalah dia tidak mau menerima uang dari orang yang tidak dia kenal, begitupun makanan atau hal lainnya. Dia hanya mau menerima pemberian dari orang yang dikenalnya. Menurut teman-teman itu artinya apa?

Selain itu, dia kalau diberi makanan ketika dia udah kenyang, dia akan cenderung menolak atau kalaupun memang harus menerima, makanan tersebut bakal dikasih ke orang lain yang membutuhkan kayak pemulung, pengemis, pengamen, atau orang lain yang ditemuinya. Sama sekali tidak mencerminkan orang yang kurang akal. Dulu, ketika orang tuanya masih hidup, dia sering terlihat mengajak ibunya jalan-jalan dengan kursi roda dan singgah di masjid persimpangan pusat kota untuk shalat ashar. Kalau sekarang, belum diketahui apakah dia masih sering shalat disana atau tidak.

Aku melihat pergerakannya dan mendengarkan cerita pemilik kedai dengan seksama. Aku juga aktif bertanya. Entah kenapa, orang ini sangat menarik bagiku. Kalau sempat dan kalau punya keberanian nih…aku mau ngobrol bareng orang ini.

Melihat dia dan hidupnya yang seperti itu, aku teringat akan sesuatu..manusia bebas. Manusia bebas adalah manusia yang tidak terikat akan apapun. Benar, dia bebas melakukan apa saja dan pergi kemana saja. Tidak mudah untuk menjadi manusia bebas. Well, yang aku bilang disini adalah manusia bebas ya teman-teman. Bukan kebebasan manusia. Itu dua hal yang berbeda. Kebebasan manusia cenderung lebih menuntut hak kebebasan untuk manusia. Yang biasanya memiliki indikator tertentu dan dalam beberapa tahun sekali indikatornya bisa berubah. Kalau teman-teman penasaran tentang indikatornya, bisa cari aja di google dengan kata kunci ‘Human Freedom Index’ biasanya disertai dengan periode tahunnya.

Nah yang aku maksud disini adalah manusia bebas. Dalam pikiranku, manusia bebas itu mirip dengan manusia purba. Kenapa? Mereka hanya terfokus pada kelangsungan hidupnya dalam hal ini mencari makan, mencari atap atau tempat berteduh, tidak memikirkan hal-hal modern seperti popularitas, reputasi, jabatan, gaji, dsb. Tapi manusia bebas saat ini adalah versi terbaru dari manusia purba. Dimana mereka harus berpakaian karena dari kecil sudah ditanamkan untuk punya rasa malu dan pakaian juga menjaga tubuh manusia dari panasnya mentari dan dinginnya hujan, jika ingin hidup bebas di alam terbuka mungkin tidak cukup senjata dan kemampuan untuk melawan kalau ada hewan buas menyerang, masih menerima pemberian uang karena sadar tidak lagi ada makanan instan yang datang dari pohon dan tumbuhan karena dari kecil dibiasakan untuk memakan makanan yang dimasak.

Pria yang saya lihat hari ini membawa tas ransel yang cukup gembung, pertanda banyak isinya. Dia memang belum bisa dikatakan sebagai manusia bebas seutuhnya ketika masih bergantung pada uang untuk mencari makan. Tapi terlalu jauh juga dia untuk bisa dikatakan manusia biasa. Aku pribadi memandangnya tetap sebagai manusia bebas..yang masih menjajaki tangga untuk mencapai kebebasan seutuhnya dan dia tidak gila. Dia bukan orang gila yang kehilangan akal atau sedikit terganggu mentalnya. Tapi mungkin ini akan berubah setelah bisa berbincang langsung dengannya. Tidak mau cepat memberi kesimpulan. Ini masih hipotesa.

Terus, kenapa aku harus ribet-ribet mikirin orang yang gak jelas dan gak aku kenal? Pada dasarnya, aku suka memperhatikan perilaku manusia. Manusia-manusia yang dinamis adalah sebuah keunikan tersendiri untuk diberi perhatian. Kalau menurut teman-teman aku sekedar membuang waktu tanpa tujuan, ya itu berarti teman-teman tidak memiliki ketertarikan yang sama denganku. Tidak apa. Perbedaan itu indah dan itu yang bisa membuat hidup kita berwarna.

Pesannya, jangan terlalu cepat kita menilai seseorang hanya karena tampak luar atau karena omongan orang lain. Tidak apa berspekulasi tapi kalau penasaran ya gali lagi informasi lebih.


Sekian untuk hari ini.

Terimakasih sudah membaca.

Jangan lupa bahagia!

2 comments:

  1. Orang lain aja diperhatiin apalagi doi ehh.. anyway keren kakak❤,, nextnya selalu ditunggu2

    ReplyDelete

Popular Posts

Penanti Rindu. Powered by Blogger.

Contact Us

Name

Email *

Message *

Follow by Email