Life Issues and International Relations

Sekarang jaman udah canggih banget ya, mau apa-apa tinggal klik sana klik sini…

Ponsel adalah sahabat manusia saat ini, setuju ga? atau kita ganti pertanyaannya, sadar ga? Dari hari ke hari, waktu ke waktu, menit ke menit…kita lihatnya ponsel terus. Dulu, ponsel itu terkenal dengan nama handphone atau telepon genggam. Sekarang namanya udah jadi smartphone atau diterjemahkan menjadi ponsel pintar. Artinya adanya peningkatan dari waktu ke waktu, yang awalnya ponsel hanya sekedar alat komunikasi, sekarang sudah menjadi multifungsi.

Perkembangan teknologi telekomunikasi ini membawa banyak dampak, mulai dari dampak positif dan juga negatif. Kamu lebih mau menjadi sahabat teknologi atau musuh teknologi? atau kita ganti pertanyaannya, kamu lebih mau menjadi konsumen teknologi atau budak teknologi? ya, pada umumnya teman-teman akan menjawab ingin menjadi sahabat atau konsumen teknologi, tapi pada kenyataannya bagaimana? Kalau misalnya kata ‘teknologi’ dalam pertanyaan sebelumnya diganti dengan kata ‘kapitalis’ bagaimana? Loh kenapa jadi kapitalis? Lah sistem perekonomian mana yang terus mengedepankan inovasi agar perekonomian terus berjalan dan terjadi peningkatan pendapatan? Inovasilah yang membuat banyaknya kemudahan seperti yang kita rasakan saat ini. Inovasi yang muncul dari kepala orang-orang yang dibiasakan untuk berpikir kreatif dan memikirkan masa depan.

Di Indonesia, metode berpikir seperti ini sangat jarang kita jumpai. Bahkan di dalam dunia pendidikan pun kita sangat jarang untuk dibiasakan berpikir kreatif. Kita cenderung dibiasakan untuk mengkonsumsi hal-hal yang sudah ada. Jarang sekali mempertanyaan apa hal yang sedang terjadi saat ini? Apa masalah yang dihadapi orang-orang saat ini? Hingga hal apa yang bisa dilakukan untuk membantu orang banyak dalam menghadapi persoalan tersebut? Tidak. Kita cenderung tidak diajarkan untuk memikirkan orang lain. Kita hanya diajarkan bagaimana caranya memikirkan diri sendiri dengan pertanyaan “ketika besar nanti mau jadi apa?”. Klasik, orang-orang, kita, aku, dan kamu akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban klasik seperti polisi, dokter, guru, bekerja di perusahaan, punya banyak uang..uang..uang..mendapatkan uang dengan cara bekerja dengan orang lain, bekerja di perusahaan asing karena perusahaan asing banyak yang sudah besar meskipun sekarang sudah banyak juga perusahaan lokal yang tidak kalah besarnya. Tidak salah untuk berpikir demikian. Tapi jika semua orang masih memikirkan hal yang sama, lantas siapa diantara kita yang akan membuat inovasi? Selain itu, pertanyaan lain muncul, ketika jaman sudah terlalu canggih, apakah pekerjaan yang kamu impikan saat ini masih berguna untuk masa depan? Apakah kemampuan yang kamu miliki dan kamu bangun hari ini masih dibutuhkan di masa depan? Ayoo pada mikir kan..

Hal yang sama bisa kita lihat juga ketika orang-orang mulai memasuki jenjang perkuliahan. Mau milih jurusan apa? Ya jurusan yang prospek kerjanya bagus lah. Well..kenapa tidak kamu yang membuat jurusan tersebut memiliki prospek kerja yang bagus dengan inovasi yang kamu buat. Kenapa harus selalu mengandalkan orang lain atau hal lain –dalam kasus ini jurusan­– untuk membantu kamu memiliki pekerjaan yang bagus? Ya balik lagi. Karena kita tidak dibiasakan untuk memikirkan hal-hal seperti itu.

Lalu apa hubungannya hal ini dengan judul blog diatas?

Panjang banget ya pembukaannya. Sebenernya simpel sih, aku mau nanya lagi nih. Kalian pernah ga sih mikir, kenapa kalian harus punya dan harus beli smartphone? Esensinya apa? Jangan bilang karena orang lain punya jadi kamu juga harus punya. Atau jangan bilang mau main sosmed biar hits. Atau mau bilang biar lancar berkomunikasi? Ya beli aja handphone biasa, kenapa harus smartphone dengan segala keunggulannya?

Tidak semua dari kita menyadari apa gunanya punya smartphone. Ya kalau punya uang banyak mau beli apa aja enak, lah kalau ga punya tapi maksain buat beli smartphone yang fungsi dan kegunaannya gatau buat apa, tapi belinya pake kredit segala?

Sadar ga sih kalau kehadiran smartphone mendatangkan berbagai hal negatif. Mulai dari waktu yang habis terbuang tanpa manfaat yang pasti setelah lihat ponsel berjam-jam, ngeluarin banyak kuota untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, mendapatkan terlalu banyak informasi sampe ga bisa bedain mana hoax mana yang pasti, ikut-ikutan menyebar informasi yang belum pasti kebenarannya, kemudahan berkomentar berujung pada ujaran kebencian sehingga terjadi banyak perselisihan, perundungan, dan hal lain yang berbau konflik. Belum lagi media pemberitaan yang senang sekali memberikan konten-konten yang nge-framing otak dan pandangan kita pada sebuah isu. Hal lainnya seperti kecanduan main games, kecanduan mencari popularitas di media sosial, serta kecanduan menonton hal-hal yang tidak edukatif melalui smartphone sebenarnya juga mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Mulai dari pola hidup tidak sehat dan sering tidur terlalu larut, lupa waktu bahkan untuk hal-hal penting seperti makan, ibadah, dsb., hingga lupa bersosialisasi dengan orang-orang sekitar bahkan orang terdekat seperti keluarga, teman, dsb. sadar ga?

Sadar ga selama ini kalau ngumpul bareng temen yang pertama kali ditanyain di tempat kumpul adalah “ada colokan ga?” ya meskipun sekarang beberapa orang udah inisiatif bawa powerbank. Sadar ga selama ini kalau pergi ke tempat nongki, yang cewek-cewek keseringan selfie dan yang cowok-cowok main games? Di rumah orang tua sibuk scrolling FB.

Sadar ga sih ketika kamu lagi main games di hp atau lagi ngeditin foto biar aesthetic..orang-orang diluar sana ngedapetin uang dari hasil kerjaan kamu ngotak-atik aplikasi itu. Mau bangga kalau main games, terus ikut kompetisi dan kalau menang dapat duit? Duitnya berapa si? 10jt? 100jt? Lah perusahaan yang bikin games dapat duit berapa milyar karena kamu terus-terusan main gamesnya? Terus situ yang sibuk ngedit foto dan video biar aesthetic biar apa? Biar pas posting dikatain cantik? Emang di rumah gaada yang bilangin kamu cantik? Kalau uploadnya foto jelek kenapa? Ga pede ya? Padahalkan itu bagian dari diri kamu juga yang harus kamu cintai. Secantik-cantiknya atau seganteng-gantengnya orang, pasti adalah foto jeleknya.

Well…mau lurusin. Ga salah kamu main games. Tapi games itu sifatnya hiburan, jangan sampe lupa waktu dan jangan sampe ngerugiin diri sendiri di masa depan. Kamu boleh main games terus-terusan kalau emang punya cita-cita buat punya perusahaan games dan ga sekedar jadi gamers. Dalam agama aku, Islam, yang wajib itu menuntut ilmu bukan bermain games. Kalau agama lain ya menyesuaikan aja dan cari..kira-kira dalam agama kamu main games itu hal wajib dan membawa berkah kah? Kalau engga ya monggo, main gamesnya dikurangin, gunain waktunya untuk mikirin hal lain yang urgent dalam waktu dekat kayaknya misalnya kerjaan kek, masa depan kek, mau jadi apa 5 tahun lagi, mau jadi apa 10 tahun lagi? atau mending baca-baca hal yang edukatif biar sambil lihat ponsel sambil ngalir pahalanya dan nambah ilmu serta pengetahuannya. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui kan enak, ya ga? Terus kenapa bawa-bawa agama? Ya karena aku percaya kalau kita ga cuma hidup di dunia aja tapi ada akhirat juga yang nungguin..sayang kalau ditinggalin kan sedangkan melalui ponsel kita juga bisa cari tabungan buat akhirat.

Buat yang suka scrolling sosmed tanpa tau tujuannya. Ya sosmed itu ga salah, tapi kalau kamu terus-terusan kecanduan buka IG, FB, Twitter berjam-jam atau tiap menit lihat sosmed itu gunanya buat apa? Tau ga? Ya kalau gatau monggo dikurangin. Ngelihatin foto selfie dan aesthetic orang-orang di sosmed itu ga bikin kamu sukses kok. Ga bikin kamu jadi orang kaya juga.

Tau ga hal yang paling miris sekarang itu apa? TikTok. Well, I have to say ga semua konten TikTok itu unfaedah, tapi mostly iya. Joget-joget ga jelas, ngetawain orang-orang yang kena musibah kayak jatuh, tersungkur, dsb. Hello, do you think it’s funny? Belum lagi sekarang ada challenge……..challenge jadi mirip setan? Situ ngapain?? Tuhan udah ciptain kamu jadi makhluk yang paling bagus di bumi, udah jadi Manusia aja, jangan rakus mau jadi makhluk ganda. Kalau emang iya mau, kenapa ga jadi malaikat aja? Atau setan emang lebih menarik ya?

Mulai sekarang ubah pola hidup yuk. Ayo mulai kurang-kurangin lihat ponsel pintarnya. Ponsel itu udah pintar, lah kamu udah pintar belum? Masa kalah sama ponsel. Jangan sampai nanti kamu jadi budak ponsel yang apa-apa harus bergantung sama ponsel. Kamu harus mengendalikan ponsel yang kamu punya dan kamu beli, bukan menjadi orang yang dikontrol oleh barang yang kamu beli. Ga lihat ponsel juga ga bakal mati kok. Jadi coba buat renungin lagi..apasih gunanya ponsel yang kamu punya saat ini? terus coba proyeksikan diri kamu untuk 5 sampai 10 tahun ke depan, mau jadi apa? Atau kalau kejauhan bisa 2 tahun ke depan aja deh dulu. Kira-kira aktivitas yang kamu lakukan dengan ponsel kamu sekarang ada gunanya ga ya untuk mendorong kamu bisa mewujudkan apa yang kamu ingin dalam beberapa waktu ke depan?

Coba juga buat lebih aware sama lingkungan sekitar. Kita hidup di antara orang banyak. Coba luangin waktunya sekitar 2-4 jam (tidak termasuk waktu nge-charge ponsel ya) untuk ngobrol sama orang-orang sekitar kita. Dan kalau ngumpul sama temen-temen nih coba check ponselnya seperlunya aja, kan ga semua chat harus dibales secepatnya dan kalau emang harus dibales coba lihat berdasarkan urgensinya. Lagian kamu pasti juga seringkan ada ngechat jam segini terus balesnya sejam kemudian. Terus kalau mau tetap eksis di sosmed biar dibilang ada kehidupan gitu (karena kan ada tuh orang-orang yang kalau ga ngesnap sehari berasa ga hidup di dunia), ya foto-fotonya pas udah mau pulang ajalah atau di waktu tertentu yang tidak menganggu obrolan.

Sekian dari aku. Maaf ya kalau menyinggung, ga bermaksud. Tapi cuma pengen nyadarin aja biar kita semua bisa make ponsel untuk hal-hal positif, meskipun yang aku bahas cuma hal negatifnya doang. Tapi berlawanan dengan itu, ada segudang hal positif yang kalau kita ngerti dan tau apa gunanya kita punya smartphone ya aktivitas yang kita lakukan pasti bernilai positif kok. 

Selain itu, teknologi telekomunikasi yang kita bisa pake dan rasain sekarang, itu udah dipikirin bertahun-tahun lamanya sebelum hari ini. Berarti, hari ini, ada orang di luar sana yang lagi mikirin dan merancang teknologi baru untuk masa depan. Kamu.. masih mau jadi konsumen teknologi aja nih? Yakin gamau coba mikir buat jadi produsennya? Selain bisa banggain diri sendiri dan orang tua, kan bisa buat bangga Indonesia juga.

Semangat ya buat kamu. Semoga sehat selalu!!


Terimakasih sudah membaca.

Jangan lupa bahagia!

4 comments:

  1. Punya pemikiran yg sama dgn writer di tulisan ini, tpi sulit bget aku ngubahnya mjd suatu hal yg lebih ada wujudnya, spt berusaha utk mempraktekan dalam kehidupan sehari2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat kak! Kamu pasti bisa mewujudkan hidup seperti yang kamu inginkan:)

      Delete
  2. Jaga kesehatan juga untuk kamu , semoga bisa melanjutkan tulisan-tulisan yang membuat kamu semakin di kenal dengan tulisan kamu.

    just stay home and take care of your health and don't forget to smile, my sweet friend.

    ReplyDelete

Popular Posts

Penanti Rindu. Powered by Blogger.

Contact Us

Name

Email *

Message *

Follow by Email